

Gula aren, si pemanis alami berwarna cokelat keemasan, berasal dari nira pohon aren (Arenga pinnata). Bahan bakunya diperoleh melalui proses tradisional, yaitu dengan menyadap mayang bunga jantan pohon tersebut. Hasilnya adalah pemanis dengan rasa karamel yang khas, yang telah lama menjadi jiwa dalam berbagai hidangan dan minuman tradisional Nusantara.
Desa Sriwulan memiliki fondasi kuat sebagai penghasil gula aren berkat komunitas petani turun-temurun dan tradisi penyadapan yang terjaga. Bukti nyata terlihat dari peningkatan produksi 40% dan tumbuhnya UMKM olahan gula aren. Dengan modal ini, Sriwulan memiliki potensi besar tidak hanya untuk berkembang menjadi sentra gula aren unggulan, tetapi juga untuk memperkuat rantai ekonomi hijau dan menancapkan identitasnya di peta kuliner nasional.


Dimulai dengan tradisi mengambil cairan manis (nira) dari tandan bunga pohon aren. Nira yang diperoleh kemudian disaring dan siap diolah.

Nira direbus dalam wajan besar pada suhu tinggi selama beberapa jam. Proses ini menguapkan kandungan air dan memekatkan nira menjadi larutan kental yang disebut siram. Dari titik inilah, proses berlanjut ke pembuatan berbagai jenis gula.

Siram yang masih panas dituang langsung ke dalam cetakan batok kelapa atau bambu, lalu dibiarkan memadat secara alami.

Siram yang masih panas dituang langsung ke dalam cetakan batok kelapa atau bambu, lalu dibiarkan memadat secara alami.

Siram tidak dibiarkan mengkristal atau memadat, melainkan diencerkan dan disaring kembali untuk mendapatkan konsistensi cair yang siap digunakan.











Gula aren yang dicetak dalam bentuk balok atau batok, biasa digunakan dalam masakan tradisional seperti kolak, rendang, atau saus.

Sirup kental yang dihasilkan dari nira aren tanpa proses pengkristalan, cocok untuk topping pancake, campuran minuman, atau pelengkap dessert.

Gula aren yang diolah menjadi butiran kristal halus, praktis, mudah larut, dan ideal untuk pemanis minuman atau penambah rasa pada kue.